Privacy

Fang (2011, hlm. 27-31) telah meninjau paradigma budaya yang berbeda termasuk paradigma ‘statis’ dan ‘dinamis’. ‘Paradigma statis’ mengasumsikan bahwa 1) fenomena budaya yang kompleks ditangkap melalui penyederhanaan; 2) kewarganegaraan atau negara bangsa diadopsi sebagai unit analisis dasar; 3) Perbedaan budaya, benturan budaya, dan tabrakan budaya pada dasarnya dianggap sebagai masalah; 4) budaya dapat dianalisis dalam dimensi budaya bipolar dimana masing-masing budaya nasional diberi pengindeksan tetap; 5) nilai adalah komponen budaya yang paling penting, dan 6) budaya dikonsepkan sebagai stabil sepanjang waktu. Fang (2011, hlm. 28-29) menunjukkan bahwa paradigma statis ini pada dasarnya adalah fenomena ‘pra-globalisasi dan pra-internet’, dan tidak mampu menangkap dinamika budaya dalam masyarakat global atau berurusan dengan keragaman intra-budaya sebagai Begitu juga perubahan budaya seiring berjalannya waktu. ‘Paradigma dinamis’ pusat kebudayaan di seputar interaksi antar budaya, dan ini berfokus pada ‘budaya yang dinegosiasikan’, dan ‘identitas budaya ganda’ (Fang 2011, hal 29). Dalam paradigma dinamis, perbedaan budaya pada dasarnya tidak dilihat sebagai masalah, melainkan sebagai kesempatan untuk pembelajaran dan transfer pengetahuan, di mana budaya ‘dinegosiasikan, dikompromikan, dipeluk, dan ditransfer’ (Fang 2011, hal 30).